Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang shalih, berakhlak mulia, dan mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh buruk. Namun, mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat, mengajarkan ilmu agama, atau memilihkan sekolah yang baik. Pendidikan anak membutuhkan kedekatan emosional, keteladanan, pembiasaan, serta doa yang terus dipanjatkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf telah memberikan banyak teladan dalam mendidik anak agar tumbuh dengan keimanan dan karakter yang kuat. Dari keteladanan tersebut, terdapat lima prinsip penting yang dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
1. Membangun Kedekatan Sebelum Memberikan Nasihat
Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan. Anak yang merasa diperhatikan, dihargai, dan disayangi akan lebih mudah menerima bimbingan dari orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan melalui interaksinya dengan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu beliau yang ketika itu masih berusia muda.
Suatu ketika, Ibnu Abbas menyiapkan air untuk keperluan bersuci Rasulullah. Ketika mengetahui siapa yang telah menyiapkannya, Rasulullah mendoakan Ibnu Abbas agar diberikan pemahaman agama. Dalam riwayat lain, Rasulullah pernah merangkul Ibnu Abbas seraya berdoa:
“Ya Allah, ajarkanlah kepadanya Al-Kitab (Al-Qur’an).” (HR. Bukhari)
Ibnu Abbas kemudian dikenal sebagai salah seorang sahabat yang memiliki keluasan ilmu, khususnya dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, hingga mendapat julukan Habrul Ummah dan Turjumanul Qur’an.
Dari teladan tersebut, dapat dipahami bahwa perhatian dan apresiasi memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Anak-anak, terutama yang masih kecil, membutuhkan penghargaan atas usaha dan kebaikan yang mereka lakukan. Mereka perlu dididik untuk ikhlas karena Allah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari orang tua agar mengetahui bahwa perbuatan baiknya dihargai. Apresiasi tidak harus berbentuk hadiah atau materi, tetapi dapat berupa pelukan, doa, atau kata-kata yang membesarkan hati.
Sayangnya, orang tua terkadang lebih cepat menegur kesalahan anak daripada menghargai kebaikan yang dilakukannya. Padahal, kedekatan yang terbangun melalui perhatian dan penghargaan akan memudahkan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak. Ketika hubungan telah terjalin dengan baik, nasihat pun lebih mudah diterima sebagai bentuk perhatian, bukan sekadar tuntutan.
2. Menanamkan Tauhid dan Rasa Takut kepada Allah
Setelah membangun kedekatan, langkah berikutnya adalah menanamkan keimanan dan ketauhidan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan nasihat kepada Abdullah bin Abbas ketika masih berusia muda:
“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi no. 2516)
Dalam kelanjutan hadis tersebut, Rasulullah mengajarkan agar seorang hamba memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa segala manfaat maupun mudarat tidak akan terjadi kecuali berdasarkan ketetapan-Nya. Nasihat ini menjadi landasan dalam menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung dan segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya.
Dari keimanan tersebut, orang tua perlu menumbuhkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan, serta khauf, yaitu rasa takut kepada Allah. Keduanya penting karena orang tua tidak mungkin mengawasi anak sepanjang waktu. Terkadang anak tampak baik dan penurut ketika berada di hadapan orang tua, tetapi berperilaku berbeda ketika tidak diawasi. Karena itu, anak perlu dibimbing agar mampu menjaga perilakunya bukan semata-mata karena takut dimarahi, melainkan karena menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk perbuatan yang tersembunyi dari manusia.
Penanaman nilai ini semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui gawai, anak dapat mengakses berbagai informasi dan konten tanpa selalu berada dalam pengawasan orang tua. Rasa takut kepada Allah menjadi salah satu benteng terpenting yang membantu mereka menjaga diri dari kemaksiatan. Meski demikian, pendidikan iman tetap perlu disertai pendampingan, terutama ketika anak belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk bagi dirinya.
Orang tua dapat memberikan kepercayaan secara bertahap sambil mengevaluasi bagaimana anak menggunakan gawai dan menjalankan tanggung jawabnya. Kesadaran beragama juga dapat diperhatikan melalui kebiasaan sehari-hari, misalnya respons anak ketika azan berkumandang. Apakah ia segera bersiap untuk menunaikan salat atau masih menunda karena sibuk dengan gawainya? Kebiasaan bersegera menunaikan salat dapat menjadi salah satu tanda tumbuhnya kesadaran untuk menjalankan perintah Allah, meskipun bukan satu-satunya ukuran keimanan anak.
3. Membekali Anak untuk Menghadapi Syahwat dan Syubhat
Selain menanamkan rasa takut kepada Allah, orang tua perlu membekali anak dengan pemahaman mengenai dua hal yang dapat merusak keimanan dan akhlak, yaitu syahwat dan syubhat. Syahwat berkaitan dengan dorongan keinginan yang dapat menyeret seseorang kepada kemaksiatan, sedangkan syubhat merupakan kerancuan pemahaman yang dapat mengaburkan kebenaran dan melemahkan keyakinan.
Keduanya dapat muncul melalui pergaulan, lingkungan, maupun informasi yang mudah diakses melalui teknologi. Karena itu, anak tidak cukup hanya diberi tahu mengenai sesuatu yang dilarang, tetapi juga perlu memahami alasannya. Tanggung jawab ini tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada guru atau lembaga pendidikan. Sejauh apa pun anak menuntut ilmu, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbingnya dan perlu terus belajar agar mampu menjawab persoalan yang dihadapi anak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan dalam mengajarkan batasan halal dan haram kepada anak. Suatu ketika, cucu beliau, Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, mengambil sebutir kurma dari harta sedekah dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasulullah segera memerintahkannya mengeluarkan kurma tersebut, kemudian menjelaskan:
“Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak memakan sedekah?” (HR. Bukhari)
Larangan memakan harta sedekah dalam peristiwa tersebut berlaku khusus bagi Rasulullah dan keluarga beliau. Namun, terdapat pelajaran pendidikan yang dapat diambil oleh setiap orang tua. Meskipun hanya menyangkut sebutir kurma, Rasulullah tidak membiarkan sesuatu yang dilarang tanpa memberikan arahan. Beliau juga menjelaskan alasannya agar sang cucu memahami mengapa perbuatan tersebut tidak diperbolehkan.
Dari kisah ini, orang tua dapat belajar bahwa pendidikan mengenai halal dan haram perlu diberikan sejak dini. Kesalahan kecil tidak seharusnya selalu dibiarkan dengan alasan anak masih kecil, tetapi dapat dijadikan kesempatan untuk memberikan pemahaman. Melalui pembiasaan tersebut, anak dilatih memiliki sikap wara’, yaitu kehati-hatian dalam menjaga diri dari perkara yang diharamkan Allah.
Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam penggunaan teknologi. Selain menjelaskan risiko konten digital, orang tua perlu mengarahkan anak untuk memanfaatkan gawai secara produktif, misalnya mengikuti pembelajaran daring atau mengembangkan keterampilan. Tujuannya bukan sekadar membatasi anak dari pengaruh buruk, melainkan membekalinya dengan kemampuan membedakan yang benar dan salah ketika kelak harus mengambil keputusan sendiri.
4. Membentuk Keberanian, Kemandirian, dan Karakter yang Kuat
Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan anak yang berilmu agama, tetapi juga membentuk pribadi yang berani, mandiri, dan bertanggung jawab. Di antara teladan yang dapat dipelajari adalah perhatian Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terhadap pembentukan karakter generasi muda, terutama dalam menjaga identitas, melatih keberanian, dan membiasakan hidup sederhana.
a. Menanamkan identitas sebagai seorang muslim
Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab, terdapat perhatian terhadap cara berpakaian dan pentingnya menjaga ciri khas kaum muslimin. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa anak perlu mengenal identitas dan nilai-nilai agamanya agar tidak mudah terbawa pengaruh lingkungan. Di tengah perkembangan budaya dan tren yang terus berubah, anak perlu dibimbing untuk mempertimbangkan apakah sesuatu sesuai dengan ajaran agama, bukan sekadar mengikutinya karena banyak dilakukan orang lain.
b. Melatih keberanian mengambil risiko
Di antara arahan pendidikan yang dinisbatkan kepada Umar adalah membiasakan anak berkuda dan memanah. Kegiatan tersebut membutuhkan keberanian, ketangkasan, dan kepercayaan diri. Nilai yang dapat diterapkan pada masa sekarang adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba hal baru, mengambil keputusan, serta belajar dari kegagalan. Orang tua tentu perlu menjaga keselamatan anak, tetapi perlindungan yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan mereka untuk belajar menghadapi kesulitan.
c. Membiasakan hidup sederhana dan mandiri
Anak perlu belajar bahwa tidak setiap keinginannya harus segera dipenuhi. Ketika menginginkan sesuatu, orang tua dapat mengajarkannya menabung dan berusaha untuk mendapatkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak juga perlu dibiasakan mengurus kebutuhannya sendiri sesuai dengan usia dan kemampuannya, seperti merapikan barang, menyiapkan perlengkapan sekolah, atau membantu pekerjaan rumah. Pembiasaan ini bertujuan membentuk pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah.
Pembentukan karakter tersebut perlu disertai komunikasi dan kepercayaan. Anak terkadang merasa terkekang karena hanya menerima tuntutan, sementara dukungan dan pendampingan dari orang tua belum cukup dirasakannya. Ekspektasi yang terlalu tinggi juga dapat membuat orang tua sulit menerima kekurangan anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menghakimi, tetapi mengajaknya memahami penyebab dan akibat perbuatannya, kemudian mencari langkah perbaikan bersama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Nilai musyawarah dapat diterapkan dengan membiasakan anak berdiskusi mengenai kegiatan, tanggung jawab, dan keputusan yang sesuai dengan usianya. Dengan demikian, anak belajar menyampaikan pendapat, mempertimbangkan pilihan, serta bertanggung jawab atas tindakan yang diambil.
5. Menyertai Setiap Usaha Pendidikan dengan Doa
Sebesar apa pun usaha orang tua dalam mendidik anak, tetap ada hal-hal yang berada di luar kemampuan mereka. Orang tua dapat menyediakan pendidikan terbaik, membangun kebiasaan positif, dan memberikan keteladanan, tetapi hidayah serta keteguhan hati merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara kisah yang dapat menjadi pelajaran adalah doa Fudhail bin Iyadh rahimahullah untuk putranya, Ali bin Fudhail. Dikisahkan bahwa Fudhail pernah berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh mendidik Ali, tetapi aku tidak mampu mendidiknya. Maka didiklah ia untukku.”
Kisah ini menunjukkan kesadaran seorang ayah akan keterbatasannya dalam mendidik anak. Fudhail telah berusaha memberikan pendidikan, tetapi tetap memohon pertolongan Allah untuk membimbing putranya. Ali bin Fudhail kemudian dikenal sebagai seorang yang memiliki kesungguhan dalam beribadah dan kehidupan yang zuhud. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa doa merupakan bagian penting dari ikhtiar pendidikan yang tidak boleh dilupakan.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun memohon kepada Allah agar diri dan keturunannya senantiasa menjaga salat:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan salat.” (QS. Ibrahim: 40)
Doa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa keteladanan perlu dimulai dari diri orang tua. Banyak orang tua merasa kurang percaya diri karena pengetahuan agamanya terbatas, terlebih ketika anak belajar di pesantren dan mungkin memiliki ilmu yang lebih luas. Namun, keteladanan tidak menuntut orang tua menjadi ustaz atau ustazah. Menjaga salat, membiasakan membaca Al-Qur’an, berzikir pagi dan petang, serta mengamalkan ilmu yang dimiliki merupakan contoh nyata yang dapat disaksikan langsung oleh anak.
Anak tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai kebaikan, tetapi juga panutan dari orang-orang terdekatnya. Ketika melihat ayah dan ibunya bersungguh-sungguh menjaga ibadah dan akhlak, anak memperoleh contoh bagaimana ajaran agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mendidik anak shalih merupakan amanah yang membutuhkan kesabaran dan usaha berkelanjutan. Dengan meneladani pendidikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf, serta senantiasa memohon pertolongan Allah, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shalih, berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menjaga agamanya.
Catatan Redaksi: Artikel ini disadur dari kajian parenting wali santri Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran bertajuk “Kunci Utama Generasi Shalih” yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Yusuf, B.A., M.H. pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
