Ketika orang tua memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di pesantren, ada harapan besar agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di pesantren, para santri dibiasakan menjalani kehidupan yang teratur, mulai dari kegiatan belajar, ibadah, hingga mengurus berbagai keperluan pribadi. Namun, menitipkan anak di pesantren bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada para asatidzah dan pengasuh. Orang tua tetap memiliki peran penting, terutama ketika anak kembali ke rumah pada masa liburan.
Pendidikan Anak Tetap Menjadi Tanggung Jawab Orang Tua
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan agama anak tidak berakhir ketika mereka mulai tinggal di pesantren. Pesantren membantu menjalankan amanah pendidikan, sedangkan orang tua tetap berkewajiban memberikan keteladanan dan membimbing anak dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik yang ditanamkan di pesantren, seperti menjaga shalat, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab, perlu mendapatkan penguatan di rumah agar menjadi bagian dari kepribadian anak, bukan sekadar perilaku yang muncul ketika berada dalam pengawasan.
Menjadikan Rumah sebagai Tempat yang Nyaman bagi Anak
Kehidupan di pesantren menuntut santri mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pembelajaran, ibadah, hafalan Al-Qur’an, hingga aktivitas pengembangan diri. Setelah menjalani rutinitas tersebut, anak membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Karena itu, masa liburan sebaiknya tidak dipenuhi dengan tuntutan dan evaluasi yang berlebihan. Orang tua dapat memanfaatkannya untuk mendengarkan pengalaman anak, mengetahui kesulitan yang dihadapi, serta membangun kembali kedekatan yang mungkin berkurang selama mereka tinggal di asrama.
Kedekatan tersebut juga perlu dijaga ketika anak masih berada di pesantren. Perhatian sederhana berupa pesan, doa, atau kata-kata penyemangat dapat memberikan pengaruh besar bagi anak. Dalam kajian ini disampaikan bahwa ada santri yang menyimpan tulisan motivasi dari orang tuanya di dekat tempat tidur atau di belakang buku tulis. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan orang tua tetap dapat dirasakan meskipun mereka tidak selalu hadir secara langsung.
Rumah hendaknya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita, baik ketika membawa kabar menggembirakan maupun saat menghadapi masalah. Anak tidak semestinya merasa takut pulang hanya karena khawatir akan mendapatkan berbagai pertanyaan tentang nilai, hafalan, atau pelanggaran yang pernah dilakukan. Orang tua tentu tetap perlu melakukan evaluasi, tetapi dengan mempertimbangkan waktu dan cara yang tepat agar kepulangan anak menjadi kesempatan untuk memulihkan semangat, bukan justru menambah tekanan.
Mendengarkan Sebelum Memberikan Nasihat
Ketika anak menceritakan persoalan yang dialaminya di pesantren, orang tua terkadang ingin segera memberikan nasihat atau menunjukkan kesalahannya. Padahal, anak mungkin sedang membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan terlebih dahulu. Misalnya, ketika anak mendapat sanksi karena melanggar aturan, orang tua perlu memahami apa yang terjadi dan alasan di balik tindakannya sebelum memberikan arahan. Mendengarkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membantu orang tua memberikan nasihat yang lebih tepat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)
Kelemahlembutan merupakan bagian penting dalam mendidik anak, termasuk ketika mereka melakukan kesalahan. Nasihat yang terus-menerus disampaikan dengan kemarahan dapat membuat anak enggan terbuka kepada orang tuanya. Sebaliknya, hubungan yang dilandasi kepercayaan memberi kesempatan bagi anak untuk mengakui kekeliruan dan belajar memperbaikinya. Orang tua perlu menjaga keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan agar anak tetap memahami pentingnya menaati aturan tanpa merasa kehilangan tempat untuk bercerita.
Membimbing Anak Menghadapi Kesulitan dan Menumbuhkan Kemandirian
Tidak semua santri menjalani proses pendidikan dengan mudah. Sebagian mungkin mengalami kesulitan memahami pelajaran, beradaptasi dengan lingkungan, atau mencapai target hafalan. Ketika menghadapi persoalan tersebut, orang tua perlu memahami penyebabnya sebelum memberikan penilaian. Nilai yang rendah, misalnya, tidak selalu menunjukkan kurangnya kesungguhan belajar, tetapi bisa disebabkan oleh kesulitan memahami materi atau metode belajar yang belum sesuai. Pendampingan yang baik membantu anak menemukan jalan keluar dan membangun kembali kepercayaan dirinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini mengingatkan orang tua agar tidak menambah beban anak dengan celaan, perbandingan, atau tuntutan yang tidak mempertimbangkan kemampuannya. Meski demikian, memberikan kemudahan bukan berarti membebaskan anak dari tanggung jawab. Kemandirian yang telah dilatih di pesantren justru perlu dipertahankan selama di rumah, misalnya dengan membiasakan anak merapikan kamar, mengurus keperluan pribadi, dan membantu pekerjaan keluarga sesuai kemampuannya. Dengan demikian, masa liburan tetap menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Mengutamakan Keimanan dalam Pendidikan Anak
Prestasi akademik, nilai yang baik, dan bertambahnya hafalan Al-Qur’an tentu menjadi kebahagiaan bagi orang tua. Namun, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian tersebut. Ketika berkomunikasi dengan anak, orang tua hendaknya tidak hanya menanyakan nilai ujian atau berapa juz Al-Qur’an yang telah dihafal, tetapi juga memperhatikan perkembangan ibadah, akhlak, dan pemahaman agamanya. Apakah anak semakin menjaga shalatnya, semakin baik dalam memperlakukan orang lain, dan semakin memahami nilai-nilai agama yang dipelajarinya? Hal-hal tersebut juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan. Allah Ta’ala telah memberikan contoh melalui nasihat Luqman kepada putranya:
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Nasihat Luqman menunjukkan pentingnya pendidikan akidah dalam keluarga. Seorang ayah tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga perlu hadir untuk berdialog dan membimbing anak dalam memahami agamanya. Demikian pula seorang ibu yang memiliki peran besar dalam menanamkan nilai-nilai keimanan melalui interaksi sehari-hari. Pendidikan di rumah dan pesantren hendaknya berjalan selaras agar ilmu yang diperoleh anak tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga tercermin dalam ibadah, akhlak, dan perilakunya.
Pada akhirnya, mendampingi anak yang menuntut ilmu di pesantren membutuhkan kesabaran, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Orang tua perlu memahami kapan harus menasihati, kapan mendengarkan, serta kapan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Masa kebersamaan di rumah mungkin terasa singkat, tetapi dapat menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan keluarga sekaligus melanjutkan pendidikan yang telah berlangsung di pesantren. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para orang tua dan pendidik dalam menjalankan amanah ini serta menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih, berilmu, dan berakhlak mulia.
Catatan Redaksi: Artikel ini disadur dari kajian parenting wali santri Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran bertajuk “Seni Mendampingi Santri di Rumah” yang disampaikan oleh Ustadz Muhamad Arifin Siregar, S.Kom., Lc., M.Pd. pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
