Doa merupakan salah satu bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan berdoa, seorang hamba menunjukkan bahwa dirinya membutuhkan Allah dan menyadari bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya. Namun, memahami doa tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang takdir dan sebab-sebab yang Allah tetapkan.
Doa sebagai Sebab
Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa doa dan permohonan perlindungan memiliki kedudukan seperti senjata. Beliau mengatakan,
“Doa-doa dan permohonan perlindungan itu ibarat senjata. Kekuatan senjata tidak hanya bergantung pada senjatanya, tetapi juga pada orang yang menggunakannya. Apabila senjata itu sempurna, tangan yang menggunakannya kuat, dan tidak ada penghalang, maka senjata tersebut akan memberikan pengaruh. Namun apabila salah satu dari perkara tersebut tidak terpenuhi, pengaruhnya pun tidak akan sempurna.”
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa doa bukan sekadar ucapan lisan. Ada sebab-sebab yang berkaitan dengan doa dan ada pula penghalang yang dapat memengaruhi hasilnya. Karena itu, seorang hamba hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh, menghadirkan kebutuhan kepada Allah, sekaligus memperhatikan sebab-sebab yang diperintahkan.
Jika Semua Sudah Ditakdirkan, Mengapa Harus Berdoa?
Salah satu pertanyaan yang dibahas Ibnul Qayyim adalah, “Jika sesuatu yang kita minta sudah ditakdirkan, bukankah ia akan terjadi meskipun kita tidak berdoa? Sebaliknya, jika sesuatu itu tidak ditakdirkan, bukankah ia tidak akan terjadi meskipun kita berdoa?”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut mengabaikan keberadaan sebab. Jika seseorang menggunakan pemikiran itu secara konsisten, maka ia tidak hanya akan meninggalkan doa, tetapi juga meninggalkan berbagai sebab lainnya. Jika kenyang sudah ditakdirkan, mengapa harus makan? Jika hilangnya rasa haus sudah ditakdirkan, mengapa harus minum? Jika mendapatkan keturunan sudah ditakdirkan, mengapa harus menikah?
Tentu saja, hal itu tidak benar. Allah menetapkan hasil sekaligus menetapkan sebab yang mengantarkan kepada hasil tersebut.
Beliau menjelaskan,
“Yang benar adalah adanya keadaan ketiga. Sesuatu yang ditakdirkan itu ditakdirkan bersama sebab-sebabnya, dan di antara sebab tersebut adalah doa. Sesuatu itu tidak ditakdirkan terlepas dari sebabnya, tetapi ditakdirkan bersama sebabnya. Ketika seorang hamba mengambil sebab tersebut, terjadilah sesuatu yang ditakdirkan itu. Dan apabila sebabnya tidak ditempuh, maka sesuatu yang dapat diwujudkan (hasil yang dikehendaki) bisa jadi akan terluput.”
Dengan demikian, mengambil sebab bukan berarti melawan takdir. Justru mengambil sebab merupakan bagian dari takdir Allah.
Doa, Ikhtiar, dan Tawakal
Hal ini dapat dipahami melalui hadis tentang burung,
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”1
Burung tersebut bertawakal kepada Allah, tetapi ia tetap keluar mencari makanan. Ia mengambil sebab, sementara rezekinya tetap berasal dari Allah. Demikian pula seorang mukmin. Ia diperintahkan untuk berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung kepada usaha tersebut. Hatinya tetap bergantung kepada Allah.
Ibnul Qayyim juga menegaskan,
“Doa termasuk sebab yang paling kuat.”
Maka doa tidak boleh dipertentangkan dengan ikhtiar. Keduanya justru berjalan bersama. Seseorang berdoa kepada Allah sekaligus menempuh sebab-sebab yang Allah jadikan sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu.
Kita Tidak Menentukan Hasil
Seorang hamba hanya memiliki kemampuan untuk menempuh sebab, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah. Kita dapat belajar, bekerja, berobat, dan melakukan berbagai usaha, tetapi kita tidak dapat memastikan hasilnya.
Demikian pula dalam doa. Kita meminta kepada Allah, tetapi kita tidak mengatur bagaimana Allah memberikan apa yang kita minta. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menggantungkan hatinya kepada sebab. Karena “sebab” hanyalah sarana yang Allah ciptakan. Allah-lah yang menciptakan sebab sekaligus menciptakan hasilnya.
Kesalahan yang lain adalah menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha. Pernyataan “kalau sudah ditakdirkan, pasti terjadi” tidak boleh membuat seseorang berhenti berikhtiar. Karena sebagaimana hasil telah ditakdirkan, “sebab” menuju hasil tersebut juga telah ditakdirkan.
Terus Berdoa dan Berusaha
Pemahaman tentang takdir seharusnya membuat seorang hamba semakin tenang, bukan semakin pasif. Ia melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya, menempuh sebab-sebab yang dibenarkan, memperbanyak doa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ketika mendapatkan sesuatu yang diharapkan, ia bersyukur. Ketika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, ia tidak berputus asa dan tidak menyalahkan takdir. Ia menyadari bahwa dirinya hanya mengetahui apa yang diinginkannya, sedangkan Allah mengetahui seluruh keadaan dan akibatnya.
Karena itu, jangan mengatakan, “Tidak perlu berdoa karena semuanya sudah ditakdirkan.” Justru doa adalah bagian dari sebab yang Allah tetapkan. Sebagaimana seseorang makan untuk mendapatkan rasa kenyang dan berusaha untuk mendapatkan hasil, seorang mukmin juga berdoa sebagai salah satu sebab untuk mendapatkan apa yang ia harapkan.
Pada akhirnya, doa, ikhtiar, dan tawakal adalah tiga perkara yang saling berkaitan. Berdoalah kepada Allah, tempuhlah sebab-sebab yang benar, dan jangan gantungkan hati kepada sebab tersebut. Kita diperintahkan untuk berusaha, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan memahami hal ini, seorang hamba dapat menjalani kehidupan dengan seimbang, tidak meninggalkan doa karena alasan takdir, tidak meninggalkan ikhtiar karena alasan tawakal, dan tidak menggantungkan hati kepada usaha karena lupa kepada Allah. Ia terus meminta, terus berusaha, dan menyerahkan hasil kepada Dzat yang menetapkan segala sesuatu.
Barakallahu fiikum.
Catatan Redaksi: Artikel ini disadur dari materi Kajian Pegawai Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran bertema “Antara Doa dan Kenyataan” yang membahas kitab berjudul “Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa'” karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah bersama Ustadz Aslam Umar Bamajbur, B.A. pada Rabu, 2 September 2026, bertempat di Masjid Al Fadhl Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran.
- HR. At-Tirmidzi ↩︎
