Menjaga Semangat Anak dalam Menuntut Ilmu, Pesantren Al Irsyad Gelar Kajian Parenting Bersama Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib

TENGARAN – Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran menggelar Kajian Parenting pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di Masjid Al Fadhl. Mengangkat tema “Kunci Sukses Menjaga Semangat Anak dalam Menuntut Ilmu”, kajian ini menghadirkan Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib sebagai pemateri dengan penyampaian dalam bahasa Arab, serta Ustadz Muhammad Yusuf, B.A., M.H. sebagai penerjemah.

Kajian tersebut diikuti oleh para orang tua dan wali santri yang hadir secara langsung di Masjid Al Fadhl. Kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran sehingga dapat diikuti oleh keluarga yang berhalangan hadir di lokasi.

Pesantren sebagai Rumah Kedua

Dalam kajiannya, Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib menekankan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya bergantung pada pesantren. Orang tua tetap memiliki peran penting dalam menjaga semangat anak selama menjalani proses menuntut ilmu.

Pesantren tidak hanya dipandang sebagai sekolah atau tempat tinggal santri, tetapi juga sebagai rumah kedua. Di dalamnya, santri mendapatkan pendidikan ilmu, akhlak, kedisiplinan, dan berbagai keterampilan yang menjadi bekal bagi kehidupan mereka.

Namun, rumah tetap menjadi madrasah pertama bagi anak. Karena itu, apa yang telah dibangun di pesantren perlu mendapatkan dukungan dan penguatan dari keluarga.

Sinergi antara pesantren dan orang tua menjadi penting agar anak mendapatkan pesan pendidikan yang selaras, baik ketika berada di pesantren maupun ketika kembali ke rumah.

Tiga Pilar Penting dalam Pendidikan Anak

Salah satu pembahasan dalam kajian adalah pentingnya memperhatikan tiga aspek utama dalam pendidikan anak atau arkanut tarbiyah.

Pertama, pembangunan raga. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang baik, menjaga kesehatan, serta membiasakan olahraga. Kondisi fisik yang baik akan mendukung anak dalam menjalani aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari.

Kedua, pembangunan intelektual. Pendidikan intelektual perlu dimulai dari penanaman akidah yang benar, pengenalan Rukun Iman dan Rukun Islam, serta pembekalan ilmu agama dan ilmu dunia. Anak juga perlu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Ketiga, pembangunan karakter dan keterampilan. Anak perlu dibiasakan untuk mandiri, bertanggung jawab, mampu mengatur waktu, serta mengenali dan mengembangkan bakat yang dimilikinya.

Ketiga aspek tersebut perlu berjalan secara seimbang. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang memiliki prestasi akademik, tetapi juga perlu membentuk pribadi yang sehat, berilmu, berkarakter, dan memiliki keterampilan.

Orang Tua Berperan Menjaga Semangat Belajar Anak

Meskipun anak berada di pesantren, orang tua tidak boleh melepaskan tanggung jawab begitu saja. Orang tua tetap perlu memberikan dukungan dari rumah dengan cara yang tepat.

Salah satu bentuk dukungan terbesar adalah doa. Orang tua hendaknya senantiasa mendoakan hidayah, kebaikan, dan keteguhan bagi anak dalam menjalani proses pendidikan.

Selain itu, anak juga membutuhkan dukungan psikologis. Kehidupan di pesantren menghadirkan lingkungan, aturan, dan rutinitas yang berbeda dengan kehidupan di rumah. Karena itu, orang tua perlu membantu anak agar mampu menghadapi berbagai perubahan dan tantangan tersebut dengan tegar.

Dalam berkomunikasi, orang tua juga dianjurkan tidak hanya menanyakan nilai atau prestasi akademik. Komunikasi dengan anak perlu diarahkan untuk mengetahui perkembangan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, ibadah, serta kehidupan sosialnya.

Dengan demikian, orang tua dapat membantu menjaga semangat anak dalam menuntut ilmu tanpa memberikan tekanan yang justru dapat membuat anak kehilangan motivasi.

Membekali Anak dalam Memilih Teman

Pergaulan juga menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian orang tua. Anak perlu dibekali dengan nilai dan prinsip yang kuat agar mampu memilih teman dan lingkungan pergaulan dengan baik.

Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan karakter anak. Karena itu, orang tua dan pesantren perlu bersama-sama membimbing santri agar mampu membangun pertemanan yang membawa kepada kebaikan dan mendukung semangat mereka dalam menuntut ilmu.

Menjaga Pendidikan Saat Liburan

Syaikh Ahmad juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi pendidikan ketika santri berada di rumah selama masa liburan.

Rasa sayang kepada anak tidak seharusnya diwujudkan dengan memberikan kebebasan tanpa batas. Membiarkan anak tidur berlebihan, meninggalkan kedisiplinan, atau menggunakan gawai tanpa kendali selama liburan dapat mengganggu kebiasaan baik yang telah dibangun di pesantren.

Sebaliknya, masa liburan dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi anak untuk menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren dalam kehidupan keluarga.

Rumah dapat menjadi miniatur kehidupan masa depan, tempat anak belajar menerapkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, pengelolaan waktu, serta kebiasaan baik lainnya.

Menjaga Semangat Menuntut Ilmu Bersama

Kajian parenting ini menjadi pengingat bahwa menjaga semangat anak dalam menuntut ilmu merupakan tanggung jawab bersama. Pesantren berperan memberikan pendidikan dan pembinaan, sementara orang tua memberikan penguatan, dukungan, dan keteladanan di lingkungan keluarga.

Ketika pesantren dan orang tua memiliki tujuan yang sama, anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih konsisten. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu santri menjalani proses menuntut ilmu dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan semangat.

Melalui kegiatan ini, Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran terus mendorong terjalinnya komunikasi dan sinergi yang baik antara pesantren dan keluarga. Sebab, pendidikan yang kuat tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui doa, dukungan, keteladanan, dan pendampingan yang terus diberikan kepada anak.

Dengan sinergi antara pesantren dan orang tua, semangat santri dalam menuntut ilmu diharapkan terus terjaga hingga mereka tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memberikan manfaat bagi umat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *