Majelis Ramadhan Ke-1: Nasihat untuk Bertemu Bulan Ramadhan

MAJALIS RAMADHANIYYAH

Karya: Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Kus (dengan sedikit perubahan)

MAJELIS KE-1

NASIHAT UNTUK BERTEMU BULAN RAMADHAN

Berkata Mu’allaa bin Fadhl: “Dahulu para salaf (pendahulu) mereka selalu berdo’a meminta kepada Allah pada enam bulan (sebelum datangnya bulan Ramadhan) agar Allah mengantarkan mereka untuk bertemu dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah pada enam bulan berikutnya (setelah datangnya bulan Ramadhan) agar Allah menerima mereka (amal perbuatan yang mereka lakukan selama bulan Ramadhan).”

Berkata Yahya bin Abi Katsir: “Diantara doa yang mereka (para salaf) ucapkan adalah, ‘ya Allah, hantarkanlah aku kepada bulan Ramadhan dan hantarkanlah bulan Ramadhan kepadaku dan terimalah amal perbuatanku (selama bulan Ramadhan).’”

Dapat bertemu dengan Bulan Ramadhan dan berpuasa (Ramadhan) adalah nikmat yang teramat besar bagi siapa saja yang ditakdirkan oleh Allah. Disebutkan dalam sebuah keterangan tentang tiga orang, yang mana dua orang diantaranya telah meninggal lebih dulu di jalan Allah (syahid) sedangkan orang yang ketiga hanya meninggal di atas tempat tidurnya. Maka Nabipun bersabda:

أليس قد مكث هذا بعده سنة فأدرك رمضان فصامه وصلى كذا وكذا سجدة في السنة ؟ فلما بينهما أبعد مما بين السماء والأرض

“Bukankah orang ini telah hidup setahun sepeninggalnya (dua orang yang syahid) kemudian dia bertemu dengan Bulan Ramadhan, berpuasa, padanya dan telah sholat sekian kali pada tahun tersebut? Sungguh rentang waktu (setahun) itu lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.”
(HR. Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Shohihul Jami’ 1/281 no. 1316)

Dikatakan dalam sebuah bait syair:

Bulan Ramadhan telah datang sebagai ladang amal bagi seorang hamba
untuk membersihkan hati dari noda dan dosa

Maka tunaikanlah hak-hak Ramadhan baik secara ucapan maupun perbuatan
Dan ambillah bekalmu untuk hari kebangkitan

Barangsiapa menanam benih dan tidak menyiraminya
Maka dia telah berniat untuk merugi di hari panennya

Betapa banyak orang yang berharap bertemu Ramadhan, tetapi harapannya tak kunjung menghampirinya, bahkan ia sudah berada dalam kegelapan kubur sebelum ia menemui Ramadhan. Betapa banyak orang yang ingin menjumpai hari-hari esoknya, tapi ia tidak dapat menjumpainya. Sekiranya kita mengetahui ajal kita, niscaya kita akan membenci berandai-andai.

Wahai orang yang belum puas berbuat dosa pada Bulan Rajab
hingga masih bermaksiat pada Rabbnya pada Bulan Sya’ban

Telah datang Bulan Puasa setelah lewat dua bulan itu
Maka jangan kamu jadikan pula Ramadhan itu sebagai bulan kemaksiatan

Bacalah Al-Qur’an dan bertasbihlah dengan penuh kesungguhan
Karena sesungguhnya itu adalah bulan tasbih dan bulan Al-Qur’an

Bawalah dirimu mengharap keselamatan
Karena kelak dirimu akan dilalap api neraka

Berapa banyak engkau mengetahui orang yang dulunya berpuasa
diantara keluarga, tetangga dan saudara

Kematian telah menyirnakan mereka dan tersisa dirimu sendiri
Aduhai betapa dekatnya sesuatu yang (dikira) jauh dari sesuatu yang dekat

Orang yang bangga dengan pakaian lebaran yang tengah disiapkannya
Ternyata esok harinya menjadi kain kafan

Sampai kapankah manusia itu akan menghiasi tempat tinggalnya (di dunia)
Padahal tempat kembali bagi manusia itu adalah alam kubur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *